Resensi buku Catching Fire - Suzanne Collins
Resensi buku Catching Fire
Penulis: Suzanne Collins
Bahasa: Inggirs
Penerjemah: Hetih Rusli
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2010
Jumlah halaman: 424 halaman
Genre: science fiction, adventure
SINOPSIS SINGKAT
Buku kedua dari trilogi The Hunger Games karya Suzanne Collins. Capitol marah karena dengan kemenangan Katniss dan Peeta, Capitol merasa terhina. Sebagian orang menganggap kejadian itu adalah sebuah aksi pemberontakan oleh Katniss, sekarang mereka ikut memberontak. Melihat pemberontakan dimana-mana, Presiden Snow mengancam Katniss untuk meredakan pemberontakan-pemberontakan tersebut, atau Presiden akan membunuh orang-orang terdekat Katniss. Katniss dan Peeta harus melanjutkan akting kasmarannya di depan seluruh penduduk Panem untuk meyakinkan masyarakat bahwa "aksi pemberontakan" mereka didasari oleh rasa cinta semata dan bukanlah pemberontakan. Sementara itu Capitol menyiapkan Quarter Quell ke-3 yang sangat di luar dugaan. Dalam Quarter Quell yang lebih susah itu, Katniss berjanji pada dirinya sendiri untuk melindungi Peeta apapun yang terjadi, meski itu berarti Katniss harus mengorbankan dirinya.
RATING
Goodreads: 4.3 dari 5 bintang
Pengguna Google: 95% menyukainya
Rating pribadi: 3,5 dari 5 bintang
REVIEW PRIBADI
Secara keseluruhan saya masih lebih suka buku pertamanya, Hunger Games. Di sekuel ini, sekitar setengah buku pertama membahas tentang politik Panem dan Capitol dan pemberontakan. Sebenarnya saya sendiri tidak terlalu mengerti bagian ini, sebelum menonton filmnya. Sebenarnya tema buku ini lebih mengarah ke Capitol dan pemberontakan yang terjadi, bukan ke petualangan Hunger Games.
Menurut saya bagian paling seru dari buku ini adalah bagian Hunger Games-nya. Baru dibahas di kira-kira seratus halaman terakhir. Arenanya keren, Suzanne Collins patut diacungi jempol karena berhasil membuat arena yang tidak terduga seperti ini. Dan plot twist di akhir, yang menurut saya agak membingungkan—entah karena saya yang tidak fokus membaca.
Jujur saja buku ini membuat saya sedikit bingung dibanding buku pertamanya yang sederhana membahas tentang Hunger Games. Catching Fire lebih membahas Capitol, yang tidak saya pahami. Namun buku ini masih tetap menegangkan, seperti buku pertama.
SINOPSIS PLOT
Aksi Katniss dan Peeta yang melanggar aturan Hunger Games sebelumnya benar-benar membuat Capitol merasa terhina. Capitol marah, sementara sebagian Pemberontakan pun terjadi di beberapa distrik, menyebabkan kekacauan besar. Melihat pemberontakan-pemberontakan tersebut, Presiden Snow menyalahkan Katniss dan mengancamnya untuk meredakan pemberontakan tersebut dengan cara meyakinkan mereka bahwa aksi mereka di Hunger Games sebelumnya itu bukanlah pemberontakan, melainkan didasari oleh rasa cinta terhadap satu sama lain. Katniss dan Peeta harus bersandiwara menjadi pasangan kasmaran, kalau tidak, orang-orang terdekat Katniss-lah yang akan jadi korbannya.
Tapi yang dilakukan Katniss dan Peeta sebagai pasangan kasmaran rupanya tidak cukup. Pemberontakan terus terjadi, pemberontakan yang dimulai Katniss. Katniss, sebagai setitik api harapan revolusi. Dan kini setengah Panem sudah terbakar api pemberontakan. Tidak ada yang bisa dilakukan Katniss, ia dan Peeta sudah melakukan semampunya. Dan Presiden Snow ingin memusnahkan setitik api harapan tersebut, supaya api pemberontakan yang sudah terjadi dapat padam. Maka Capitol, dalam rangka Quarter Quell yang ke-3, membuat aturan baru, yakni peserta Quarter Quell akan diambil dari bekas pemenang-pemenang di tiap distrik. Termasuk Katniss dan Peeta. Dengan cara ini, Presiden Snow, yang bekerja sama dengan kepala juri Hunger Games baru, Plutarch Heavensbee, berharap Katniss akan mati dan pemberontakan berhenti.
Peserta Distrik 12 yang terpilih adalah Katniss dan Haymitch, tapi Peeta mengajukan diri menggantikan Haymitch. Sehingga Katniss akan bersaing bersama Peeta. Karena pesertanya banyak yang sudah berpengalaman, permainan menjadi semakin sulit. Haymitch sebagai mentor menyuruh mereka mencari sekutu. Selama menjalani pelatihan, Katniss dan Peeta berhasil mendapat sekutu para lansia. Meski begitu, di arena, Finnick O'dair tiba-tiba membantu Katniss. Maka sudah resmi mereka menjadi sekutu, bersama Peeta dan Mags, pasangan bersaing Finnick.
Arena Quarter Quell baru dan lebih sulit. Dengan lawan yang lebih berpengalaman, Katniss mati-matian berusaha melindungi Peeta. Namun selalu ada bantuan yang menyertai; seperti bantuan Finnick menghidupkan Peeta kembali, Mags yang mengorbankan diri demi Peeta, hingga seorang peserta dari distrik lain yang juga mengorbakan diri demi Peeta. Meski kehilangan Mags, Katniss, Peeta, dan Finnick berhasil bertahan lama, hingga mereka bertemu Johanna Mason bersama Beetee dan Wiress. Mereka berenam pun menjadi sekutu. Wiress mengungkapkan teorinya tentang arena Quarter Quell ini yang seperti jam. Namun kemudian Wiress terbunuh oleh peserta Distrik 1.
Lalu mereka menyusun rencana keluar dari Quarter Quell. Pada saat rencana mereka hampir selesai dan Katniss siap melakukan tugasnya, peserta distrik lain tiba-tiba mengganggu rencana mereka sehingga menjadi kacau. Di tengah kekacauan yang genting, Katniss yang terdesak memutuskan untuk menembak langit-lagit arena yang menurutnya adalah medan energi. Medan energi tersebut pun meledak, membuat Katniss tak sadarkan diri.
Katniss siuman di pesawat keci yang menuju Distrik 13. Dalam pesawat tersebut terdapat juga Finnick, Beetee, Haymitch, Gale, dan Plutarch Heavensbee, ketua Hunger Games yang baru. Katniss pun lalu diberi tahu bahwa selama ini beberapa peserta, Haymitch, dan Plutarch telah membuat rencana untuk menjaga Katniss tetap hidup sehingga pemberontakan terus terjadi. Mereka juga menjaga Peeta tetap hidup karena jika Peeta mati, Katniss tidak akan mau menjadi simbol pemberontakan. Namun, misi mereka menjaga Peeta gagal, karena Peeta, dan Johanna, tertangkap Capitol. Katniss juga diberi tahu bahwa Distrik 12 sudah hancur dibom, dan sebagian penduduk berhasil menyelamatkan diri ke Distrik 13.

Komentar
Posting Komentar