Bahas Buku: Rahasia The Secret History
Para pecinta genre dark academia pasti tak asing dengan buku The Secret History karya Donna Tartt. Diterbitkan pada 1992, The Secret History dianggap sebagai pelopor genre dark academia dan masih menjadi salah satu buku terbaik dalam genre tersebut. Namun, di balik keindahan yang menyelubunginya, The Secret History memiliki kisah nyata yang tak kalah menarik. Bagaimanapun, sebuah karya sastra merupakan cara tak langsung bagi penulis untuk menunjukkan bagaimana keadaan sosial pada masa itu.
The Secret History bercerita tentang pertemanan enam siswa di Hampden
College, sebuah universitas swasta kecil di bukit di Vermont, Amerika Serikat.
Ditulis dari sudut pandang salah satu tokoh, Richard Papen, buku ini menceritakan
pengalaman sang narator dalam masa kuliahnya di Hampden, ketika ia menjadi
siswa baru dalam kelas sastra klasik. Dalam kelas tersebut hanya terdapat lima
siswa dan satu profesor yang mengajar semua mata pelajaran mereka. Namun, yang
tidak Richard ketahui adalah bahwa mereka semua, kelima teman sekelasnya
beserta profesornya, memiliki rahasia gelap.
The Secret History ditulis Donna Tartt pada saat ia masih menjadi
mahasiswi sastra klasik di Bennington College, angkatan 1982 – 1986. Bisa
dikatakan bahwa kehidupannya di Bennington itulah yang menginspirasi ide The Secret History. Pada 2019, terbit sebuah
artikel berjudul “The Secret Oral History of Bennington: The 1980s' Most
Decadent College” yang ditulis oleh Lili Anolik. Artikel tersebut berisi hasil
penelitiannya terhadap Universitas Bennington. Dari situ pembaca dapat
menemukan berbagai kemiripan antara tokoh dan latar The Secret History dengan kehidupan Donna Tartt saat bersekolah di
Bennington dulu. Berdasarkan wawancara reporter Esquire terhadap para alumni
Bennington, dikatakan bahwa sudah merupakan rahasia umum kalau The Secret History ditulis berdasarkan
kehidupan mereka dahulu.
Bennington College sendiri adalah
universitas swasta di kota kecil, tidak jauh berbeda dengan Hampden College
yang menjadi latar The Secret History.
Bahkan penggambaran letak, kelas, bangunan, dan kondisi geografisnya pun sangat
mirip. Seolah tak cukup membuat Hampden mirip Bennington, Donna Tartt juga mencantumkan
salah satu program khas universitasnya dahulu, yakni Non-Resident Term, dalam bukunya.
Profesor Donna terdahulu, Fredericks Claude, adalah yang menginspirasi tokoh Julian Morrow, guru Richard Papen dalam The Secret History, yang mempunyai andil besar dalam cerita. Dikatakan bahwa Fredericks juga seorang yang berprestasi, nyentrik, dan karismatik, yang sangat mirip dengan karakter Julian. Bahkan beberapa kalimat yang dikatakan Fredericks dahulu juga ditulis dalam novel sebagai perkataan Julian.
“Every person I recalled from our time at Bennington seemed reworked in [Donna’s] pages.” — Jonathan Lethem, dalam Zelig of Notoriety.
Selain sang profesor, teman-teman kuliah Donna juga menginspirasi tokoh-tokoh dalam ceritanya. Todd O’Neal adalah sosok di balik tokoh Henry Winter, sementara Matt Jacobsen adalah Bunny Corcoran. Bahkan, Todd mengatakan bahwa The Secret History adalah sebuah roman à clef. Pendeskripsian tokoh Henry Winter dan Bunny Corcoran serta tingkah laku mereka pun sangat persis dengan Todd dan Matt. Beberapa perkataan mereka dikutip dalam novel. Tempat tinggal Henry dibuat sama seperti tempat tinggal Todd. Masa kecil Henry dibuat mirip dengan masa kecil Todd. Hampir semua orang yang mengenal Todd dan Matt mengatakan bahwa Henry dan Bunny adalah replika dari mereka berdua. Bahkan ibu kandung Matt Jacobson juga setuju.
“And, like Bunny, I was an extremely affected young man. I’d make broad, questionable statements. One day in the dining hall I was gawking at some girl and said, 'Reminds me of the way Diana’s painted on the ceiling of my father’s club,' and that line found its way into Donna’s book.” — Matt Jacobsen.
Tidak sulit bagi orang-orang untuk menghubungkan Henry dan Bunny dengan Todd dan Matt. Ketika ditanya mengenai hal ini, Todd dan Matt mengakui adanya kemiripan tersebut dan menerima fakta bahwa merekalah orang-orang di balik kedua tokoh tersebut.
“The Secret History isn’t so much a work of fiction. It’s a work of thinly-veiled reality—a roman à clef. When it came out, Claude and Matt and I got endless calls. Everybody was saying, ‘Oh, did you know Donna just wrote a book about Claude and you all? And Claude is Julian and Matt is Bunny and you’re Henry.’” — Todd O’Neil.
Namun, siapa yang akan senang
jika dirinya dijadikan sebagai inspirasi untuk menulis karakter buruk? Todd
dan Matt mengakui kemiripan mereka dengan tokoh-tokoh Donna, tetapi bukan
berarti mereka menikmatinya. Perlu diketahui juga bahwa ada beberapa sifat
dalam tokoh-tokoh Donna yang dilebih-lebihkan olehnya. Hal ini jelas merusak
hubungan pertemanan mereka dengan sang penulis.
Lalu, jika Donna menuliskan
orang-orang di sekitarnya dalam buku, apakah sang penulis juga menuliskan
dirinya sendiri? Bisa diasumsikan bahwa Donna menuliskan dirinya dalam buku
sebagai si narator, Richard Papen. Orang tua Richard memiliki profesi yang sama
dengan orang tua Donna. Ia juga sempat mengkutip dirinya sendiri lalu ditulis
sebagai perkataan Richard.
The Secret History menunjukkan
bagaimana kemanusiaan bisa dikesampingkan demi kepentingan estetika semata. Lewat The Secret History, Donna
Tartt berusaha menyampaikan bagaimana keadaan sosial pada masa itu. Apa yang ia tuliskan dalam buku ini hanyalah contoh kecil dari kacaunya sifat kemanusiaan di dunia.
Yang menarik dari The Secret History yakni segala sesuatu tentang buku ini adalah indah, tetapi juga kelam. The Secret History bukan hanya sebuah ode, melainkan juga sebuah satire terhadap budaya dark academia. Dengan buku ini, Donna Tartt menunjukkan bagaimana estetika dan seni bukanlah sekadar unsur-unsur sederhana pelengkap dalam kehidupan, melainkan sebuah hal besar yang tidak sebaiknya diremehkan.
"Death is the mother of beauty."
"And what is beauty?""Terror."
— Donna Tartt, The Secret History.
Komentar
Posting Komentar