Resensi buku Komet - Tere Liye
Resensi buku Komet
Judul: Komet
Penulis: Tere Liye
Co-Author: Diena Yashinta
Bahasa: Indonesia
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2018
Jumlah halaman: 384 halaman
Genre: fiction, adventure
SINOPSIS SINGKAT
Si Tanpa Mahkota membuka portal menuju Klan Komet untuk menambah kekuatannya, mencari senjata pustaka. Namun sebelum portal sempurna menutup, Raib, Seli, dan Ali sempat meloncat masuk ke portal. Mereka bertiga pun mendarat dan tersesat di Klan Komet yang letaknya sangat jauh dari Bumi. Dibantu penduduk-penduduk lokal, mereka lantas melakukan pertualangan menjelajahi Klan Komet dalam rangka mencari portal menuju Klan Komet Minor, beradu cepat dengan si Tanpa Mahkota.
RATING
Goodreads: 4.2 dari 5 bintang
Pengguna Google: 97% menyukai
Rating pribadi: 3 dari 5 bintang.
REVIEW PRIBADI
Tidak mudah memahami ceritanya, terutama soal bagaimana tujuan Raib, Seli, dan Ali bisa berubah dari menuju Klan Komet menjadi menuju Klan Komet Minor. Saya perlu membacanya berkali-kali hingga akhirnya mengerti. Petualangannya tidak terlalu mendebarkan dan sedikit datar.
SINOPSIS PLOT
Si Tanpa Mahkota, musuh terbesar Raib, Seli, dan Ali, berhasil lolos dan melarikan diri, dan sekarang sedang mencari sebuah klan untuk menambah kekuatannya dalam menguasai dunia. Klan tersebut adalah klan Komet. Alasan mengapa si Tanpa Mahkota ingin ke Klan Komet adalah, karena di klan tersebut ada pulau kecil bertumbuhan aneh sebagai portal menuju klan lain yang menyimpan pusaka sakti.
Di tengah keseruan Festival Bunga Matahari di Klan Matahari, Si Tanpa Mahkota tiba-tiba datang dan membuat kerucuhan besar. Ia lalu mencuri bunga matahari pertama terbit dan menggunakannya sebagai portal menuju Klan Komet. Terbukalah sebuah portal besar menuju Klan Komet. Si Tanpa Mahkota segera melangkah masuk, namun Ali, Seli, dan Raib sempat mengikuti masuk sebelum portal tertutup.
Tibalah mereka di Klan Komet. Mereka mendarat di sebuah tepi pulau, yang disebut Pulau Hari Senin. Di situ mereka bertemu Paman Kay, seorang penduduk lokal. Mereka bertanya soal “portal” menuju Komet Minor. Namun Paman Kay tidak tahu dan menyuruh mereka pergi ke Pulau Hari Selasa. Di perjalanan mereka bertemu kapal yang sedang dirompak. Mereka menyelamatkan si pelaut bernama Max, dan memutuskan mengajaknya bergabung dalam misi mereka.
Tiba di Pulau Hari Selasa, mereka bertemu saudara kembar Paman Kay, yaitu Kakek Kay. Di sana Raib, Seli, dan Ali melawan seekor raja bintang laut raksasa untuk menemukan boneka seorang penduduk lokal yang hilang. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke Pulau Hari Rabu, karena Kakek Kay tidak tahu tentang portal yang mereka cari.
Di Pulau Hari Rabu mereka bertemu Petani Kay. Di sana Raib, Seli, dan Ali dihadangkan rintangan berupa serangan kawanan burung hitam yang pintar dan sangat kuat, kompak membentuk formasi untuk menyerang. Raib dan teman-temannya berhasil mengalahkan burung hitam. Karena Petani Kay juga tidak tahu tentang Klan Komet Minor, mereka melanjutkan perjalanan ke Pulau Hari Jumat, tempat otoritas Kepulauan Komet, dengan menumpang kapal penduduk.
Di perjalanan mereka dihadang oleh perompak nomor satu di Klan Komet, Dorodok-dok, yang sebenarnya juga saudara kembar Kay, tapi enggan mengakui. Kapal yang ditumpangi Raib kalah, para awak kapal, termasuk rombongan Raib, tertangkap dan dibawa ke Pulau Hari Kamis, markasnya para perompak. Di sana para perompak terkena penyakit ketergantungan dari penggunaan senjata sakti, termasuk Dorokdok-dok. Raib berhasil menyembuhkan Dorokdok-dok, dan sebagai imbalan, mereka dibebaskan dan melanjutkan perjalanan ke Pulau Hari Jumat.
Di Pulau Hari Jumat mereka diundang Pemimpin Otoritas Pulau, yang merupakan saudara kembar Kay, ke istana. Namun, di istana mereka kedatangan Dorokdok-dok yang menyusup masuk. Kemudian terjadi pertarungan memperebutkan tahta antara Dorokdok-dok dengan Pemimpin Otoritas Pulau. Dorokdok-dok akhirnya menjadi Pemimpin Otoritas Pulau yang baru. Kemudian karena Dorokdok-dok tidak tahu juga tentang Komet Minor, rombongan Raib disarankan pergi ke Pulau Hari Sabtu.
Di tengah perjalanan, mereka bertemu seekor gurita raksasa sebesar gunung. Gurita tersebut menghancurkan kapal mereka, dan mereka bertahan selama berjam-jam terombang-ambing hanya dengan berpegangan sebilah papan kayu. Akhirnya mereka tiba di Pulau Hari Sabtu, hanya untuk mengetahui bahwa selama ini Paman Kay membuat beberapa bayangan dirinya sendiri, berusaha mengecoh Raib dan kawan-kawan, mengetes ketulusan hati mereka. Di pulau itu, Paman Kay yang asli membuka portal menuju Klan Komet Minor, dan Raib, Seli, Ali, serta Max melangkah memasuki portal.
Mereka tiba di tengah pulau dengan tumbuhan aneh. Di situ tiba-tiba Max mengungkap wujud aslinya, berubah wujud menjadi si Tanpa Mahkota, dan langsung mengunci Raib, Seli, dan Ali di dalam jaring ajaib. Mereka bertiga tidak bisa melakukan apa-apa, hanya bisa pasrah dengan keadaan. Menunggu datangnya keajaiban yang tiba-tiba datang, tinggal soal waktu mereka akan kalah.
KEPENGARANGAN
Tere Liye adalah seorang penulis buku best-seller Indonesia. Novel-novelnya banyak digemari oleh para anak muda. Pengarang kelahiran Lahat ini memiliki nama asli Darwis. Sementara nama Tere Liye yang dikenal masyarakat merupakan nama penanya. Tere Liye lahir dari keluarga sederhana. Orang tuanya adalah petani biasa, dan Tere Liye tumbuh dewasa di pedalaman Sumatra.Meski berhasil dalam dunia literasi Indonesia, kegiatan menilis hanya sekedar hobi baginya, karena sehari-hari ia masih bekerja di kantor sebagai akuntan. Tere LIye menikah dengan Riski Amelia dan memiliki dua anak, Abdullah Pasai dan Faizah Azkia.
Komentar
Posting Komentar