Resensi buku Girl in Pieces - Kathleen Glasgow
Resensi buku Girl in Pieces
Judul: Girl in Pieces
Penulis: Kathleen Glasgow
Bahasa: Inggris
Penerbit: Ember
Tahun terbit: 2016
Jumlah halaman: 420 halaman
Genre: Young Adult fiction, mental health. Perlu diperhatikan bahwa buku ini bercerita tentang kesehatan mental. Ada beberapa adegan dan kata yang dapat menjadi hal sensitif bagi beberapa pihak.
“Roar of ocean, swirl of tornado. I am being swallowed.”
SINOPSIS SINGKAT
Di umur 17 tahun, kehidupan Charlie Davis bisa dikatakan berat. Ayahnya bunuh diri, persahabatannya hancur, diusir ibunya dari rumah, menjadi gelandangan, bahkan dilecehkan. Semua kesedihannya ia lampiaskan dengan menorehkan luka pada kedua tangan dan kakinya. Charlie sempat dirawat di rumah sakit jiwa. Begitu kondisinya membaik, dan harus keluar dari rumah sakit, Charlie pergi ke Tucson, jauh dari tempat tinggal asalnya. Ia pergi ke Tucson dengan harapan ia dapat memulai hidup baru ditemani Mikey, sahabat lamanya sekaligus cinta pertamanya. Namun, keadaan di sana jauh dari ekspektasi Charlie, dan ketika Charlie tengah berusaha memulai hidup baru yang lebih baik dan sehat, segalanya malah berubah menjadi kacau. Buku ini bercerita tentang jatuh-bangun perjuangan Charlie dalam membangun hidupnya kembali. Bagaimana hidup di dalam bayang-bayang trauma, bagaimana berusaha sembuh dari luka masa lampau, dan bagaimana sulitnya menyusun diri sendiri menjadi utuh kembali setelah hancur berkeping-keping.RATING
Goodreads: 4,1 dari 5 bintangCommon Sense Media: 5 dari 5 bintang
Google users: 96% menyukai
Rating pribadi: 5 dari 5 bintang
REVIEW PRIBADI
Seperti yang biasanya akan dikatakan Ellis, this book is f***ing angelic.
Buku ini dimulai ketika Charlie sudah mendapatkan luka-lukanya. Jadi pembaca sedikit bingung dengan kisah masa lalu Charlie ketika sebelum semuanya terjadi. Meski begitu, Charlie sesekali akan mengenang masa lalunya dan pembaca dapat secara perlahan mempelajari masa lalu Charlie.
Perlu diperhatikan bahwa buku ini bercerita tentang kesehatan mental. Ada beberapa adegan yang dapat menjadi hal sensitif bagi beberapa pihak. Dimohon kebijakan pembaca.
SINOPSIS PLOT
Charlotte Davis baru berumur 17 tahun. Namun ia sudah banyak kehilangan. Persahabatan Charlie dengan Ellis, Mikey, dan DannyBoy hancur ketika Ellis mencoba bunuh diri dan mengalami cedera otak. Kesedihannya kian bertambah ketika ayahnya tewas menenggelamkan diri di sungai, membuat hubungan Charlie dengan ibunya menjadi tidak baik. Charlie dan ibunya sering bertengkar hebat, saling melukai, hingga akhirnya Charlie diusir dari rumah. Charlie pun hidup menjadi gelandangan. Charlie nyaris diperkosa di terowongan jalan raya, dan diselamatkan oleh dua orang anak gelandangan, Evan dan Dump. Charlie yang sejak itu selalu bersama keduanya, mau tak mau ikut ke sebuah rumah seks tempat Evan dan Dump membeli narkoba. Charlie, bersama para korban lainnya, dilecehkan. Charlie melampiaskan kesedihannya pada tubuhnya, dengan menorehkan luka di kedua tangan dan pahanya.Hingga suatu saat Charlie berhasil pergi dan ia mendapat pertolongan di rumah sakit atas luka-lukanya. Charlie pun dibawa ke Creeley Center, sebuah Rumah Sakit Jiwa. Ia menderita gejala PTSD (Post-Traumatic-Stress Disorder). Di Creeley, Charlie bertemu sesama pasien lainnya dan berteman baik dengan salah satu dokter di sana, Bethany atau sering dipanggil Casper. Keadaan Charlie pun seiring waktu membaik. Dengan fasilitas di rumah sakit, Charlie diam-diam mencoba menghubungi Mikey, sahabat lamanya yang pindah ke Tucson, mencoba memperbaiki persahabatan yang sempat hancur.
Kemudian Charlie harus keluar dari rumah sakit karena dana untuk perawatannya terputus dan ia dianggap sudah membaik. Ia harus tinggal bersama ibunya, meski keduanya enggan. Namun, ternyata, ibunya menyuruh Charlie untuk pindah ke Tucson bersama Mikey. Charlie berangkat, berharap bisa memulai hidup baru ditemani Mikey, mencoba mengubur masa lalunya yang kelam, mencoba mengubur trauma-traumanya.
Di Tucson, Charlie bekerja sebagai pencuci piring di True Grit, sebuah kedai dekat apartemennya yang murah. Charlie hidup dengan gajinya yang sedikit dan uang hasil kerjanya dengan Ellis saat dulu. Charlie yang sejak dulu menyukai Mikey berharap kali ini Mikey akan menyukainya. Namun, Mikey ternyata sudah bertunangan dengan seseorang dan akan menikah. Charlie patah hati, saat itu pula ia mulai menyukai rekan kerjanya bernama Riley West, penyanyi tampan yang dulu sempat terkenal. Charlie mengira segalanya akan membaik; ia memiliki pacar yang “mencintainya”, bakatnya menggambar mulai dilirik seniman ternama, bahkan ia akan ikut serta dalam sebuah pameran seni.
Namun Charlie tidak tahu bahwa ia sudah terjerumus ke dalam jurang kegelapan. Riley yang merupakan seorang pemabuk dan pecandu narkoba tidak cukup waras untuk benar-benar mencintai Charlie. Hubungan antara Charlie dan Riley terus berlanjut, meski keduanya tahu bahwa hubungan mereka tidaklah sehat.
Tepat ketika segalanya mulai membaik, Charlie malah terjun ke dalam kegelapan, yang berakibat segalanya menjadi kacau. Charlie mulai mabuk-mabukan. Kemudian datanglah Blue, teman Charlie saat sama-sama menjadi pasien. Kedatangan Blue sebenarnya berdampak baik, hingga suatu hari Blue mendapat kabar bahwa Louisa, teman mereka di Creeley, bunuh diri. Blue kalut, ia pergi ke rumah Riley untuk menenangkan diri. Charlie terkejut menemukan Blue dalam keadaan teler dan mabuk di rumah Riley, kemudian semakin terkejut ketika melihat Riley tengah berselingkuh dengan Wendy, si penjual narkoba langganan Riley.
Charlie kalut, putus asa, frustasi. Mengetahui bahwa Louisa bunuh diri. Mengetahui bahwa Blue kembali teler. Mengetahui bahwa Riley selingkuh. Begitu ia kembali ke apartemennya, kondisi kamarnya berantakan dan banyak barang yang hancur, semua oleh Wendy. Hati Charlie hancur berkeping-keping. Ia mengancurkan botol kacanya hingga berserakan, dan dengan sengaja berdiam diri di atas serpihan kacanya. Charlie bermandikan darah, tapi ia tak peduli. Charlie pun tak sadarkan diri.
Ketika terbangun, Charlie berada di jok belakang suatu mobil, dengan pakaian baru. Ternyata Linus dan Tanner, rekan kerja Charlie, menyelamatkannya dan membawanya ke rumah kakek mereka di suatu daerah yang sepi. Ternyata Wendy dan Riley kabur berdua dengan mencuri mobil dan uang dari True Grit. Namun mereka mengalami kecelakaan, kondisi Wendy kritis, sementara Riley dipenjara dan direhabilitasi. Sementara itu, Charlie berusaha memulihkan dirinya di rumah besar Felix, kakek Linus, yang merupakan seorang seniman. Luka-luka baru Charlie mulai mengering, dan ia mulai melukis kembali dibantu Felix, berusaha memulihkan lukanya yang kedua kali.
Setelah Charlie pulih, mereka kembali ke kota mereka. Charlie kembali bekerja di True Grit, apartemennya diperbaiki oleh Blue, dan ia jauh dari Riley. Keadaan mulai membaik lagi. Kemudian suatu hari Riley datang kembali untuk mengisi acara amal, tapi kali ini kondisinya jauh lebih baik. Riley tidak lagi seorang pecandu dan pemabuk. Ia lebih sehat dan waras. Charlie, dengan bujukan teman-temannya, akhirnya bersedia menonton Riley tampil. Riley menyanyikan beberapa lagu, salah satunya adalah lagu ciptaannya untuk Charlie. Riley sempat memberi Charlie sepucuk surat sebelum akhirnya Charlie pergi dari acara bersama Blue.
Kemudian Felix menelepon Charlie, menawarkannya bekerja di rumah besarnya, sekaligus belajar menjadi pelukis. Charlie dengan senang hati menerimanya. Cerita ditutup dengan adegan Charlie yang berangkat menuju rumah Felix, merasa bahwa kali ini segalanya akan membaik.

Komentar
Posting Komentar